
Kalimat ini mungkin terdengar familiar bagi banyak orang yang bergerak di dunia marketing:
“Kalau memang jago marketing, kenapa nggak buka bisnis sendiri saja?”
Kalau dipikir lebih dalam, kalimat ini menyimpan satu asumsi: seolah-olah marketing adalah segalanya. Padahal kenyataannya, marketing hanyalah satu bagian kecil dari sebuah bisnis.
Saya sendiri juga benar-benar merasakan hal ini dari pengalaman pribadi.
Beberapa tahun terakhir, saya membangun beberapa website sebagai bentuk investasi marketing (SEO). Salah satunya mulai menunjukkan hasil tahun ini. Trafik mulai naik, lalu masuklah beberapa lead. Bahkan ada yang datang dengan permintaan yang bagi saya cukup besar nilainya.
Secara fungsi marketing, ini bisa dibilang berhasil:
Tapi masalahnya muncul di tahap berikutnya:
Karena sistemnya belum siap. Akhirnya, beberapa lead yang potensial itu hanya berhenti sebagai notifikasi di WhatsApp. Di titik ini saya benar-benar paham:
Marketing bisa menciptakan peluang, tapi tidak bisa menyelesaikan semuanya sendirian.
Tugas utama marketing sebenarnya sederhana:
Setelah itu, yang bekerja bukan lagi marketing, tapi sistem yang ada dalam bisnis tersebut.
Kalau sistem tidak siap, maka marketing yang bagus pun akan sia-sia.
Inilah yang terjadi pada saya. Leads ada, tapi tidak siap ditindaklanjuti. Dan akhirnya peluang itu lewat begitu saja.
Dari sini saya mulai melihat pertanyaan itu dengan lebih jernih.
Orang sering menyamakan jago marketing dengan siap berbisnis. Padahal keduanya adalah dua hal yang sangat berbeda.
Jago marketing berarti:
Sedangkan siap berbisnis berarti:
Banyak marketer yang sangat hebat menarik perhatian, tapi tidak semua siap membangun sistem bisnis dari nol. Dan itu bukan kekurangan. Itu hanya soal peran yang berbeda.
Sama seperti di sepak bola: striker yang jago mencetak gol belum tentu jago mengatur strategi tim.
Pengalaman ini mengajarkan satu hal penting.
Tanpa alur yang jelas, semua lead hanya akan jadi “sapaan cantik” di inbox. Potensinya besar, tapi tidak punya jalur untuk merubahnya menjadi transaksi.
Meski ada peluang yang terlewat, saya tidak benar-benar menyesal. Justru dari situlah saya mendapatkan pelajaran mahal: bahwa mendatangkan pelanggan dan melayani pelanggan adalah dua pekerjaan yang berbeda.
Sekarang saya jadi lebih paham:
Jadi, ketika seseorang berkata,
“Kalau jago marketing, kenapa nggak buka bisnis sendiri aja?”
sebenarnya jawabannya sederhana:
Karena marketing bukan bisnis itu sendiri, tapi bagian dari bisnis. Ia hanya membuka pintu. Yang menentukan apakah orang akan masuk atau pergi, adalah apa yang ada di dalamnya.