Dari berbagai bab yang telah kita bahas, bagian ini, mengenai bagaimana menangani klien dan melakukan pelaporan, menjadi penentu utama apakah klien merasa puas atau tidak, terlepas dari seberapa baik hasil kerja kita.
Komunikasi yang dimaksud di sini bukan sekadar soal gaya berbicara atau basa-basi, melainkan bagaimana kita menyampaikan hal-hal penting yang menunjang kelancaran sebuah pekerjaan. Misalnya, terkait deadline, revisi, dan cakupan (scope) pekerjaan.
Idealnya, kita akan menerima brief yang berisi ekspektasi dan instruksi dari klien. Namun dalam praktiknya, tidak jarang klien hanya memberikan arahan secara lisan/chat atau tidak lengkap, sehingga pekerjaan yang harus dilakukan menjadi terasa “ngambang”.
Dalam situasi seperti itu, sebaiknya kita secara proaktif meminta brief atau penjelasan lebih lanjut. Jangan hanya mengiyakan tanpa kejelasan. Tanpa patokan yang jelas, pekerjaan bisa jadi melebar ke mana-mana, atau justru tidak sesuai dengan harapan klien karena kurangnya informasi yang kita terima di awal.

Tidak semua pekerjaan mengharuskan kita menyusun alur kerja secara rinci. Untuk pekerjaan yang sifatnya kecil atau sederhana, yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, alur kerja mungkin tidak terlalu dibutuhkan. Namun, berbeda halnya jika kita menangani pekerjaan yang kompleks. Dalam kasus seperti ini, menyusun alur kerja menjadi sangat penting agar proses berjalan lebih terstruktur dan terukur.
Agar lebih mudah dipahami, mari kita gunakan contoh berikut:
Tipe pekerjaan: 100 artikel SEO dengan topik asuransi
Dalam menulis artikel SEO, biasanya kita tidak hanya menulis saja. Ada beberapa tahapan penting yang mendukung kelancaran dan kualitas hasil kerja. Misalnya:
Tahap pertama: kita memulai dengan riset keyword dan materi. Setelah mendapatkan daftar keyword yang relevan, biasanya saya (penulis) menyetorkannya terlebih dahulu kepada klien untuk mendapatkan persetujuan. Jika keyword telah disetujui, baru kita lanjut ke tahap penulisan.
Tahap kedua: proses penulisan artikel. Sama seperti tahap riset, setelah artikel selesai ditulis, biasanya kita akan melakukan pengecekan plagiarisme terlebih dahulu. Hasil artikel beserta skor plagiasinya kemudian dilaporkan kepada klien. Jika tidak ada revisi, kita bisa lanjut ke tahap berikutnya, yaitu publikasi.
Tahap ketiga: publikasi artikel sekaligus melakukan update status kepada klien.
Catatan: Dalam konteks pekerjaan ini, penulis kadang membagi pengerjaan secara bertahap (parsial), misalnya:
Menyusun alur kerja seperti ini sangat bermanfaat untuk meminimalisir revisi yang tidak terduga.
Misalnya, jika kita langsung menulis artikel tanpa memastikan bahwa keyword telah disetujui oleh klien, maka risiko tulisan kita ditolak atau perlu revisi besar akan jauh lebih tinggi. Bayangkan jika 100 artikel sudah selesai, namun ternyata banyak keyword tidak sesuai harapan klien—tentu akan sangat merepotkan, bukan?