Pertama-tama, kita cerita dengan sudut pandang pekerja terlebih dahulu ya.
Perlu saya tekankan, memilih antara bekerja onsite atau menjadi freelancer bukan soal mana yang lebih unggul, tapi lebih kepada mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing dari kita. Tidak ada jawaban mutlak yang berlaku untuk semua orang, karena setiap pilihan, memiliki kelebihan dan tantangannya sendiri.
Untuk menentukan mana yang lebih cocok, kita dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

Sebagai freelancer, kita punya kebebasan penuh dalam mengatur jam kerja. Kita bisa menentukan sendiri kapan waktu paling produktif dan bekerja sesuai ritme yang nyaman. Sekilas, ini mungkin terdengar seperti keuntungan besar, tapi apakah benar selalu seperti itu?
Tidak juga.
Fleksibilitas waktu bisa menjadi pedang bermata dua. Jika tidak memiliki manajemen waktu yang baik, kebebasan ini justru bisa menjadi jebakan. Rasa malas, kebiasaan menunda pekerjaan, atau kurangnya disiplin bisa membuat produktivitas menurun. Namun, jika kita mampu mengatur diri dengan baik, freelance bisa menjadi pilihan yang sangat menguntungkan.
Inilah salah satu alasan saya menyukai dunia freelance. Dari sini, saya benar-benar memahami arti “waktu adalah uang.” Semakin cepat menyelesaikan proyek, semakin cepat pula mendapatkan bayaran dan mengambil proyek berikutnya. Berbeda dengan kerja onsite, di mana jam kerja sudah ditentukan oleh perusahaan, sehingga berapa pun efisiensi kita dalam bekerja, tetap harus mengikuti jadwal yang ada.
Salah satu keuntungan besar menjadi freelancer adalah kita tidak perlu datang ke kantor. Mau kerja di kafe, restoran, kamar, atau bahkan di tengah ladang? Tidak masalah. Yang penting, pekerjaan selesai tepat waktu dan hasilnya sesuai ekspektasi klien. Selama itu terpenuhi, tidak ada yang akan bertanya kita bekerja dari mana.
Berbeda dengan pekerja kantoran. Mereka harus hadir di tempat kerja sesuai jadwal yang ditentukan. Jika tiba-tiba menghilang tanpa izin, pasti langsung dicari atasan. Sedangkan freelancer? Selama komunikasi tetap lancar dan pekerjaan beres, klien tidak akan peduli di mana kita menyelesaikannya.
Soal penghasilan, ini jadi salah satu hal paling krusial dalam memilih antara freelance atau kerja onsite. Apakah freelancer bisa dapat gaji besar? Tentu saja. Apakah bisa dapat penghasilan kecil? Pasti, dan itu pernah dirasakan banyak freelancer.
Keuntungan bekerja freelance adalah potensi pendapatannya yang tidak terbatas. Semakin banyak proyek yang diambil, semakin besar pula penghasilan yang didapat. Tapi ada sisi lainnya, tidak ada jaminan pemasukan tetap. Saat butuh uang mendesak, bisa saja justru sedang tidak ada proyek yang masuk.
Di sinilah kerja onsite punya keunggulan. Dengan sistem gaji setiap bulan, pekerja tetap tidak perlu khawatir soal “kapan proyek datang lagi.”
Saat kondisi keuangan sedang pas-pasan, setidaknya masih ada kepastian penghasilan yang bisa diandalkan.
Sebagai freelancer, pekerjaan yang kita ambil biasanya sesuai dengan kesepakatan awal. Kita tahu apa yang harus dikerjakan, berapa bayarannya, dan kapan deadline-nya. Tidak ada tugas tambahan di luar perjanjian, jika ada, itu berarti pekerjaan baru yang bisa dinegosiasikan.
Beda cerita dengan kerja onsite. Meskipun sudah memiliki jobdesk yang jelas, tidak jarang ada tugas lain yang tiba-tiba muncul. Bisa jadi disuruh membantu pekerjaan rekan lain, mengerjakan hal di luar keahlian, atau bahkan diminta lembur tanpa kompensasi yang sebanding. Tentu tidak semua perusahaan seperti ini, tapi kemungkinan besar, kita akan menghadapi situasi di mana tugas yang dikerjakan lebih banyak dari yang tertulis di kontrak.
Jika masih ragu memilih antara kerja onsite atau freelance, kenapa tidak menjalani keduanya? Menjadikan freelance sebagai pekerjaan sampingan bisa jadi solusi yang lebih aman. Dengan begitu, kita tetap mendapatkan penghasilan tetap dari pekerjaan utama, sekaligus mencoba peluang di dunia freelance tanpa tekanan finansial yang besar.
Selain menambah pemasukan, menjalani freelance sebagai sampingan juga bisa menjadi cara untuk membangun portofolio dan memperluas jaringan. Jika nantinya dirasa lebih prospektif dan stabil, barulah mempertimbangkan untuk beralih sepenuhnya ke dunia freelance.
Oke, selanjutnya kita bercerita dengan sudut pandang mahasiswa.