BAB III | 2. Segmentasi & Selling Point

Kalau kamu punya sedikit dasar tentang dunia marketing, istilah segmentasi dan selling point pasti sudah tidak asing lagi. Dalam dunia pemasaran, ini adalah dua konsep dasar yang digunakan untuk menyusun strategi agar produk atau jasa bisa sampai ke orang yang tepat dengan cara yang tepat.

Meskipun kita di sini tidak sedang belajar marketing secara formal (dan ini juga bukan e-book khusus tentang marketing), saya sangat yakin bahwa memahami dua hal ini akan sangat membantu, terutama untuk kita yang ingin atau sudah terjun ke dunia freelance.

Kenapa begitu?

Karena sejatinya, sebagai freelancer, kita juga sedang menjual sesuatu. Bedanya, yang kita jual bukan barang fisik, melainkan skill, waktu, dan hasil kerja kita. Dan seperti halnya produk dalam dunia bisnis, jasa kita juga tidak mungkin cocok untuk semua orang. Kalau kita menawarkannya ke orang yang salah, sekeras apa pun kita promosi, hasilnya akan tetap minim.

Itulah mengapa memahami:

  • kepada siapa kita menawarkan jasa (segmentasi), dan
  • alasan kenapa mereka harus memilih kita (selling point)

menjadi sangat krusial.

Supaya lebih mudah dipahami, mari kita bahas satu per satu:

 

Segmentasi

Segmentasi itu, kalau disederhanakan, adalah cara kita membagi “pasar” menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil berdasarkan karakter tertentu. Bisa berdasarkan usia, jenis usaha, lokasi, kebutuhan, sampai budget. Dalam dunia marketing istilah ini sudah sangat umum. Tapi dalam dunia freelance, konsep ini justru sering dilupakan.

Dalam konteks freelance, segmentasi berarti satu hal sederhana:

kita perlu tahu klien seperti apa yang paling cocok dengan skill yang kita punya.

Karena faktanya, tidak semua orang yang butuh jasa kita adalah klien yang tepat untuk kita. Dan tidak semua proyek yang datang juga layak untuk kita ambil. Kalau kita asal menerima semua tanpa tahu segmen yang ingin kita tuju, lama-lama kita capek sendiri. Capek karena sering salah paham, sering beda ekspektasi, sering berakhir dengan negosiasi yang melelahkan.

Ambil contoh, kita adalah seorang freelance graphic designer. Kita punya dua pilihan besar: fokus ke bisnis kecil yang butuh desain logo sederhana, atau ke perusahaan besar yang butuh branding lengkap dan terstruktur. Dua-duanya sama-sama butuh desainer, tapi kebutuhan, cara kerja, sampai cara berkomunikasinya bisa sangat berbeda. Klien UMKM biasanya butuh yang cepat, praktis, dan terjangkau. Sementara korporasi besar lebih detail, lebih banyak revisi, lebih panjang prosesnya, tapi juga biasanya lebih tertib secara sistem.

Dengan melakukan segmentasi, kita jadi tidak asal “lempar jaring”. Kita tahu ke mana harus mengarahkan energi. Kita tidak menghabiskan waktu ke pasar yang sejak awal memang kurang potensial atau kurang cocok dengan posisi kita saat ini. Kita jadi lebih fokus, lebih rapi, dan lebih hemat tenaga.

Nah, setelah kita menentukan target klien yang ingin kita tuju, langkah berikutnya adalah bertanya:

di mana mereka bisa kita temui?

Karena percuma kita sudah tahu siapa target kita, kalau kita tidak tahu ke mana harus mencari mereka.

Kalau target kita adalah owner UMKM, jalurnya biasanya lebih “membumi”. Kita bisa menemukan mereka di komunitas-komunitas pengusaha: komunitas katering, komunitas fashion lokal, komunitas reseller, komunitas UMKM daerah, dan sebagainya. Di tempat-tempat seperti ini, banyak pemilik usaha kecil yang sedang berjuang membangun brand, mempercantik tampilan bisnisnya, dan meningkatkan penjualan. Mereka sering butuh bantuan freelancer: desain, social media, konten, website sederhana, dan lain-lain.

Berbeda halnya kalau target kita adalah perusahaan besar atau korporasi. Pendekatannya tidak bisa lagi asal DM atau chat santai. Kita perlu terhubung dengan orang-orang yang memang punya wewenang atau peran dalam pengadaan jasa: bagian HR, marketing, brand, atau tim digital. Untuk segmen ini, LinkedIn sangat membantu.

Selain dua jalur itu, ada juga cara lain yang cukup populer, yaitu lewat platform freelance. Kita bisa bergabung di Upwork, Freelancer, Fiverr, Sribulancer, dan platform sejenisnya. Di sana tersedia berbagai macam job, dari klien perorangan, UMKM, hingga perusahaan menengah ke atas. Namun, kita juga perlu sadar bahwa platform freelance adalah medan yang sangat kompetitif.

Selling Point

Setelah kita tahu kepada siapa kita mau menawarkan jasa, langkah berikutnya yang tidak kalah penting adalah menentukan selling point, alasan kenapa klien harus memilih kita dibanding puluhan, bahkan ratusan freelancer lain di luar sana.

Karena jujur saja, di dunia freelance, skill saja tidak selalu cukup. Banyak orang yang “bisa”, tapi yang benar-benar dipilih klien biasanya adalah mereka yang punya pembeda. Nah, pembeda inilah yang disebut selling point.

Selling point tidak harus sesuatu yang luar biasa langka. Tidak harus juga sesuatu yang terlihat “wah”. Yang penting, itu adalah keunggulan yang relevan dengan kebutuhan klien.

Salah satu bentuk selling point yang paling umum adalah keahlian spesifik.

Misalnya, kalau seseorang ingin menjadi penulis freelance. Selling point-nya bisa bermacam-macam:

bisa karena gaya menulisnya persuasif, bisa karena pernah menulis di media besar, atau bisa juga karena fokus di niche tertentu seperti teknologi, keuangan, kesehatan, atau edukasi. Klien biasanya tidak hanya mencari “penulis”, tapi penulis yang paling cocok dengan kebutuhannya. Penulis artikel lifestyle tentu berbeda dengan penulis artikel finansial. Dari cara riset, sudut pandang, sampai gaya bahasanya semua berbeda.

Begitu juga dengan desainer grafis. Selling point bisa berupa spesialisasi di desain branding, pengalaman mengerjakan logo untuk banyak UMKM, penguasaan tools tertentu, atau kemampuan menciptakan konsep visual yang konsisten dan kuat secara identitas brand. Ada klien yang mencari desainer cepat dan praktis, ada juga yang mencari desainer yang kuat di konsep dan strategi visual. Semua kembali ke kebutuhan.

Semakin jelas kita memahami di mana letak keunggulan kita, semakin mudah kita memposisikan diri. Kita tidak lagi sekadar “freelancer yang bisa ini itu”, tapi menjadi “freelancer yang dikenal karena satu hal tertentu”. Di titik inilah klien yang tepat akan lebih mudah tertarik, karena merasa, “Ini orangnya yang saya cari.”

Selain keahlian teknis, selling point juga bisa datang dari pengalaman dan rekam jejak. Pernah mengerjakan proyek tertentu, pernah menangani klien dari industri tertentu, atau pernah terlibat dalam proyek besar. Semua itu membangun kepercayaan. Bagi klien, pengalaman adalah bukti bahwa kita bukan hanya bisa secara teori, tapi juga sudah terbukti di lapangan.

Ada juga selling point yang sering dianggap sepele, tapi sebenarnya sangat kuat: cara kerja dan sikap profesional. Respons yang cepat, komunikasi yang jelas, deadline yang ditepati, revisi yang ditangani dengan sabar, hal-hal seperti ini sering kali membuat klien merasa aman dan nyaman. Bahkan tidak jarang, klien lebih memilih freelancer yang “enak diajak kerja sama” daripada yang skill-nya sedikit lebih tinggi tapi sulit diajak komunikasi.

You might also like
Chat WhatsApp
WhatsApp