BAB II | 2. Pengembangan Skill

Saya Tidak Memiliki Skill Apa Pun

“Tapi Mas, Saya Tidak Memiliki Skill Apa Pun…”

Mungkin kita harus mengulik lagi, apa benar tidak ada skill apa pun yang kita miliki? Atau sebenarnya kita hanya merasa kurang percaya diri dengan skill yang sudah ada?

Banyak orang yang berpikir bahwa mereka tidak memiliki keahlian apa pun, padahal tanpa sadar, mereka sebenarnya sudah memiliki modal awal untuk terjun.

Bisa jadi kita sering dalam mengerjakan tugas kuliah (menulis), senang mengutak-atik desain di Canva, atau terbiasa mengelola akun media sosial pribadi dengan cukup baik. Semua itu adalah skill! Hanya saja, mungkin selama ini kita tidak menyadarinya karena belum melihatnya sebagai sesuatu yang bernilai atau bisa dikembangkan lebih jauh.

Namun, mari kita ambil kemungkinan terburuknya: “Memang tidak ada skill sama sekali.”

Kalau begitu, berarti kita wajib belajar! Tidak ada jalan lain

Kabar baiknya, di era digital seperti sekarang, belajar itu jauh lebih mudah dibandingkan dulu. Ilmu tersedia di mana-mana, bertebaran di internet dalam berbagai format: artikel, video, podcast, e-book, webinar, hingga kursus online berbayar maupun gratis. Tinggal bagaimana kita menemukannya, menyaring informasi yang benar-benar berkualitas, dan tentu saja konsisten dalam belajar serta mempraktikkannya.

Belajar yang Lebih Efektif

Namun, jika berbicara soal cara belajar yang lebih efektif, terarah, dan efisien, saya pribadi lebih menyarankan untuk mengikuti e-course atau kursus online. Bukan tanpa alasan, karena pada praktiknya, e-course menawarkan sistem belajar yang jauh lebih terstruktur dibandingkan belajar secara acak dari internet.

  • Pertama, materi dalam e-course lebih terstruktur. Tidak seperti belajar otodidak yang sering kali membuat kita kebingungan harus mulai dari mana, e-course umumnya sudah disusun secara sistematis, dimulai dari konsep paling dasar hingga masuk ke level lanjutan dan studi kasus. Kita tidak “lompat-lompat” materi, tetapi diajak belajar secara bertahap. Ini sangat membantu, terutama bagi pemula yang masih membangun fondasi.
  • Kedua, ada roadmap pembelajaran yang jelas. Kita tidak perlu menghabiskan banyak waktu memilah-milah ratusan artikel, video, atau thread dari berbagai platform yang belum tentu saling terhubung. Dengan mengikuti kursus, kita sudah mendapatkan peta jalan: apa yang harus dipelajari hari ini, minggu ini, dan seterusnya, termasuk mungkin bagaimana cara mengaplikasikannya. Ini membuat proses belajar menjadi lebih fokus.
  • Ketiga, kita bisa belajar langsung dari pengalaman mentor. Banyak e-course yang dibimbing oleh praktisi atau profesional yang benar-benar terjun di industri. Artinya, materi yang kita pelajari tidak hanya berbasis teori, tetapi juga hasil dari pengalaman mereka di lapangan. Kita bisa memahami kesalahan umum, studi kasus, hingga strategi yang benar-benar dipakai di dunia kerja.
  • Keempat, biasanya tersedia komunitas atau forum diskusi. Ini adalah salah satu keunggulan besar dari banyaknya e-course. Di dalam komunitas, kita bisa bertanya langsung ketika mengalami kebingungan, berdiskusi dengan peserta lain, berbagi pengalaman, bahkan membuka peluang kolaborasi.

Namun, bukan berarti belajar secara otodidak dari internet itu tidak bagus. Sama sekali tidak. Banyak orang sukses yang memulai dari belajar mandiri melalui YouTube, blog, forum, dan berbagai kanal gratis lainnya. Jika memang kita nyaman dengan metode ini, itu sah-sah saja.

Hanya saja, belajar otodidak memiliki beberapa tantangan yang perlu disadari sejak awal.

  • Pertama, membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan materi yang benar-benar berkualitas. Tidak semua informasi di internet akurat, relevan, atau up to date. Kita harus menyaring sendiri mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Proses ini sering kali menghabiskan waktu dan menguras energi.
  • Kedua, informasi tersebar di banyak tempat. Satu konsep bisa kita temukan di video A, lanjutannya di artikel B, pendalaman di forum C, dan studi kasus di sumber D. Akibatnya, materi menjadi tidak runtut dan sulit disusun secara sistematis, terutama bagi pemula yang belum punya kerangka berpikir yang kuat.
  • Ketiga, tidak adanya bimbingan langsung. Ketika kita salah memahami sebuah konsep, sering kali kita tidak sadar bahwa kita salah. Tidak ada mentor yang mengoreksi. Akibatnya, kesalahan itu bisa terbawa jauh dan baru terasa dampaknya ketika kita sudah terjun langsung ke dunia kerja atau menghadapi klien.

Karena itulah, jika memiliki kesempatan dan kemampuan finansial, mengikuti e-course bisa menjadi jalan pintas yang lebih aman dan terarah untuk membangun skill. Ia mempercepat proses belajar, meminimalkan trial and error yang tidak perlu, serta membuka akses ke pengalaman, komunitas, dan mindset profesional sejak awal.

You might also like
Chat WhatsApp
WhatsApp