BAB I | 3. Bagaimana dengan Mahasiswa?

Jika kamu seorang mahasiswa, coba jujur pada diri sendiri. Pasti topik yang satu ini bikin penasaran, kan? Di luar sana, tidak sedikit mahasiswa yang sebenarnya sudah lama kepo dengan dunia freelance. Tapi sayangnya, tidak semuanya benar-benar bergerak. Banyak yang masih terjebak di fase “penasaran saja”, tanpa pernah melangkah lebih jauh untuk mencari tahu secara serius.

Padahal, rasa penasaran itu seharusnya menjadi pintu awal untuk berubah. Bukan sekadar disimpan, tapi ditindaklanjuti. Karena dunia freelance tidak akan terbuka hanya untuk mereka yang “ingin tahu”, melainkan untuk mereka yang berani mencoba.

Kalau mahasiswa sudah mulai melirik dunia freelance, saya bisa menebak apa motivasi utamanya. Sembilan dari sepuluh mahasiswa yang mulai mengulik dunia ini hampir pasti punya alasan yang sama: ingin menambah uang jajan. Entah untuk biaya makan, nambah kuota, beli buku, membantu orang tua, atau sekadar tidak ingin terus-terusan bergantung pada kiriman bulanan. Dan itu wajar.

Kabar baiknya, sekarang kamu sedang memegang e-book yang tepat. Artinya, kamu sudah selangkah lebih maju dibandingkan mereka yang hanya berhenti di rasa ingin tahu. Kamu sudah mulai mencari arah.

Namun sebelum benar-benar masuk ke pembahasan, mungkin ada baiknya kita menguatkan dulu satu hal penting: mindset dan motivasi. Pembahasan berikut ini bisa menjadi bekal motivasi tambahan untuk kalian, selamat membaca.

 

Kenapa Mahasiswa Harus Terjun ke Dunia Freelance?

Uang Jajan Tambahan

Yang pertama, dan ini hampir pasti jawabannya, adalah uang jajan tambahan. Hampir semua mahasiswa akan sepakat soal ini. Dan jujur saja, saya pun dulu berada di posisi yang sama. Tepat di semester tiga perkuliahan, saya mulai memberanikan diri terjun ke dunia freelance. Bukan karena sudah jago. Satu-satunya alasan saya waktu itu sangat sederhana: ingin punya uang jajan tambahan.

Siapa, sih, mahasiswa yang tidak ingin punya penghasilan sendiri? Bisa beli kebutuhan tanpa harus selalu minta orang tua. Bisa sesekali traktir teman. Bisa nambah tabungan kecil-kecilan. Hal-hal sederhana, tapi rasanya sangat berarti karena itu hasil dari usaha sendiri.

Dan dari sinilah semuanya bermula. Dari niat yang mungkin sangat “sepele”, bahkan terkesan materialistis: uang. Tapi justru dari alasan sederhana itulah, saya mulai melangkah. Saya mulai belajar hal baru, mencoba hal yang belum pernah saya lakukan, dan pelan-pelan keluar dari zona nyaman.

Yang menarik, uang jajan tambahan itu hanya pintu masuknya saja. Tanpa disadari, dari langkah kecil tersebut terbuka banyak hal baik lainnya.

Portofolio & Pengalaman

“Hal baik lainnya” yang saya maksud di atas, salah satunya adalah portofolio dan pengalaman. Mungkin di awal, dua hal ini terdengar biasa saja. Padahal, justru inilah modal paling berharga yang akan sangat menentukan arah perjalanan kita ke depan, baik di dunia kerja maupun di dunia freelance itu sendiri.

Setiap proyek yang pernah kita kerjakan, sekecil apa pun skalanya, sebenarnya adalah bukti bahwa kita mampu menyelesaikan sebuah tanggung jawab.

Pengalaman selama menjalani freelance juga mengasah banyak sisi dalam diri kita: cara berkomunikasi dengan klien, mengelola waktu, menghadapi revisi, menepati deadline, hingga menghadapi komplain. Semua itu membentuk mental kerja yang jauh lebih matang dibandingkan mereka yang belum pernah terjun langsung.

Kelak, ketika kita melamar kerja, portofolio dan pengalaman ini sering kali menjadi penentu utama, bahkan bisa jadi lebih dipertimbangkan daripada IPK. Dan jika kita memilih untuk tetap melanjutkan karier sebagai freelancer, portofolio inilah yang akan menjadi senjata utama untuk mendapatkan klien yang lebih besar, proyek yang lebih serius, dan bayaran yang lebih layak.

Networking

“Hal baik lainnya” yang tidak kalah penting adalah networking. Iya, membangun jaringan atau relasi. Tidak perlu baca buku teori atau kutipan motivator, percaya saya, networking itu penting.

Kita ini manusia, yang punya keterbatasan. Kita tidak bisa mengerjakan semuanya sendirian. Akan ada masa di mana kita butuh bantuan orang lain: mungkin butuh insight dari yang lebih berpengalaman, kolaborasi proyek, atau sekadar dikenalkan ke orang baru. Semua itu bisa lebih mudah ketika kita sudah menjalin banyak relasi.

Namun, penting juga untuk diingat bahwa sekadar memiliki jaringan tanpa dibarengi kemampuan yang nyata akan terasa sia-sia. Ibarat ada rekan yang membutuhkan seorang web developer, tetapi kita sendiri tidak memiliki keterampilan di bidang tersebut, maka peluang itu akan lewat begitu saja. Bukan karena kurangnya relasi, tetapi karena kita belum siap untuk menjawab kebutuhan itu.

Relasi membuka pintu kesempatan, sementara kemampuan memastikan kita bisa masuk dan bertahan di dalamnya. Tanpa skill, jaringan hanya menjadi kumpulan rekan. Tanpa jaringan, skill pun sering kali kesulitan menemukan panggungnya. Jadi penting untuk kita mempersiapkan diri agar layak dipercaya. Saat kesempatan datang, kita tidak lagi berkata, “Wah, sayang ya belum bisa,” melainkan, “Siap, ini bisa saya kerjakan.”

You might also like
Chat WhatsApp
WhatsApp